Mengapa Sulit Untuk Khusyu Dalam Shalat? Ini Jawabannya

shares |

Advertisement
Shalat menggambarkan tiang agama. dan juga shalat pula merupakan rukun islam yang ke - 2. dan juga dia pula pembeda antara mu’min dan juga kafir. oleh karenanya bagaikan seseorang mu’min yang baik, haruslah kita mencermati kualiats shalat kita tiap - tiap. salh satunya merupakan khusyu’.

tetapi, kita seluruh menyadari banyak di atara kita seluruh tercantum penulis seorang diri masih susah buat khusyu’ dalam shalat. berikut jawaban dari kasus terpaut sulitnya khusyu’ dalam shalat oleh ust arifin ilham. mudah - mudahan dengan mengenali pemicu sulitnya kita buat khusyu’ dalam shalat, mudah2an kita dapat membetulkan mutu shalat kita.

yang kesatu, benar belum kenali kecuali sebatas tuhan. belum kenali watak, af’al dan juga asmanya. ia yang menghasilkan manusia, hewan, tumbuh - tumbuhan, saya, tubuhku, mataku, telingaku, jantungku, istriku, anak - anakku, seluruh yang kulihat, seluruh yang kudengar, seluruh yang bergerak, seluruh yang berposisi dilangit dan juga dibumi, seluruh dihidupkannya ” (AL) muhyi” dan juga seluruh hendak dimatikannya “al mumiitu“. seluruh tunduk dalam kehendak “al muriidu” dan juga kekuasaannya “al qodiiru”, dialah yang mengendalikan seluruhnya “ar robbu”, dialah yang mengusai sekalian mempunyai seluruhnya “al maaliku” (qs ali imran 26 - 27). ia maha memandang “al bashiiru” ketahui persis hati, benak dan juga lintasan benak kita dan juga ia maha mendengar “as samiiu”. mendengar gesekan daun, langkah semut dan juga rintihan hati hambanya.

lalu sadarkah kita kalau ia yang seluruh galanya yang kita hadapi dalam sholat sepanjang ini? , bisakah hati dan juga benak kita lari dikala sholat sedangkan ia memandang hati benak kita? bahwa begitu kok dapat maksiat sedangkan ia terus menerus mencermati kita?

yang kedua, karna belum faham teks, arti, hikmah, keutamaan, ketentuan dan juga rukun sholat. hingga jadilah “sukaaro” shalat mabuk alias sholat tanpa kerasa, tanpa uraian, tanpa penghayatan, tanpa kepercayaan, kosong, hampa, seolah robot jasad tanpa ruh. “alkusaala” malah merasa beban, buru - buru pengen kilat tuntas, senangnya menunda - nunda waktunya, gerak sholatnya kilat serupa ayam matok. surah dan juga teks shalatpun komai kamit. sahabatku, ikuti kalam allah ini, “…janganlah kamu menegakkan shalat, sebaliknya kamu dalam kondisi mabuk, hingga kamu betul - betul mengerti apa - apa yang kamu baca dalam shalat kalian” (qs an nisa 43).

amati orang mabuk mengatakan berbuat namun tidak siuman apa yang dikatakan dan juga apa yang diperbuat, amati orang shalat berdiri, bertakbir, baca ayat, rukuk, sujud, tahiyyat dan juga salam, namun tidak siuman kalau dia lagi berdiri, rukuk, sujud menghadap pencipta langit dan juga bumi, tidak siuman kalau dia lagi berdialog dengan pencipta pribadinya, yang maha memastikan segala - galanya.

yang ketiga, karna tidak siuman kalau shalat itu merupakan “almuhadatsah bainal makhluqi wa khooliqi” diskusi hamba kepada khaliqnya, “apabila salah seseorang dari kamu shalat, sesungguhnya dia lagi berkomukasi dengan allah” (hr bukhori muslim).

coba perhatikan dari adzan, panggilan waktu menghadapnya, yang dipanggilpun yang bersyahadat, “asyhaaduallaa ilaaha illallah wa ashhadu anna muhammadar rasulullah”, yang tidak beriman tidak terpanggil, karna seperti itu rasulullah menegaskan, “yang membedakan kita dengan orang kafir merupakan shalat, hingga siapa dengan terencana meninggalkan shalat hingga begitu dia sudah berperangai serupa orang kafir”.

menutup rambut/aurat menghadapnya, menghadap kiblat karna benar fokus jasad ruh, hati benak kepadanya, terlebih berjamaah jadi apik shaf dan juga segala duniapun satu arah kiblat, kemudian bersuci karna benar menghadap maha suci, kemudian berdiri tegap, takbir, membaca ifitah “inn wajjahtu wajhiyalilldzi fathoros samaawati wal ardho” hamba tiba menghadapmu duhai pencipta langit dan juga bumi, tunduk patuh taat padamu. inilah diantara komunikasi shalat yang belum dimengerti. lalu gimana khusyu’ tanpa pemahaman ini, sahabatku…?

yang keempat, karna sedikit kita yang mengerti kalau dalam shalat tatkala membaca (AL) fatihah terjalin diskusi hamba dengan rabbnya. dari abu hurairah, rasulullah bersabda, “barang siapa membaca tulisan al - fatihah, tiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh allah”, kemudian rasulullah mengantarkan kala seseorang hamba mengatakan, ”segala puji untuk allah, tuhan seru sekaligus alam”. allah menanggapi, “hamba - ku telah memuji - ku”. seseorang hamba mengatakan, ”yang maha pengasih, lagi maha penyayang”. allah menanggapi, “hamba - ku memuji - ku”. seseorang hamba mengatakan, ”raja di hari pengadilan”. allah menanggapi, “hamba - ku mengagungkan diri - ku. hamba - ku berserah diri kepada - ku”. seseorang hamba mengatakan, ”hanya engkaulah yang kami sembah, dan juga cuma kepada - mu kami meminta pertolongan”. allah menanggapi, “inilah pertengahan antara saya dan juga hamba - ku, dan juga untuk hamba - ku apa yang ia memohon saya berikan”. seseorang hamba mengatakan, ”tunjukilah kami jalur yang lurus, jalur yang telah engkau anugerahkan kepada mereka, bukan mereka yang kena murka dan juga bukan mereka yang sesat. ” allah menanggapi, “ini kepunyaan hamba - ku, dan juga untuk hamba - ku apa yang ia memohon saya berikan”. (hadist qudsi, hr muslim).

karna itu sahabatku, mulailah bacanya pelan - pelan dengan pemahaman dan juga keyakinan“thuma’ninah”, begitu allah menanggapi tiap ayat yang kita baca…”

yang kelima, karna “hubbub dunya” amat menyayangi dunia, “the money is the first and the final of life, nomor money nomor happy” sampai - sampai hati pikirannya senantiasa dipadati oleh seluruh suatu yang bertabiat duniawi, uang, dolar, makan minum, keluarga, target - target bisnis, masalah - masalah, berkhayal dan juga sebagainya. dan juga seperti itu yang di ingat - ingat dalam shalat, hingga apa yang diucap oleh rasulullah, “hatta yansa kam rok atan laka” hingga dia kurang ingat sudah berapa rakaat dia sudah shalat”, hingga tidak heran dikala sholat yang semestinya hati pikirannya fokus dalam sholat malah ingat dunia.

sahabatku, ikuti kalam allah surah (AL) maa’uun ayat 4 dan juga 5, “celakalah orang - orang yang mengerjakan shalat yang hati pikirannya lalai kepada allah”. lalai hatinya karna dunia “ball tu’tsiruunal hayaatad dunya” (qs (AL) a’laa 16). karna itu sadarilah hidup kita tidak lama di dunia yang fana ini, shalatlah seolah shalat terakhir hidup, ikuti sabda rasulullah, “bila engkau melaksanakan shalat hingga shalatlah kalian, serupa orang yang hendak meninggalkan alam fana” (hr ibnu majah imam ahmad).

yang keenam, karna makan minum yang haram, baik secara zat “lizaatihi” serupa anjing, babi, alkohol, narkoba dan juga sebagainya. ataupun trik mencarinya dengan trik haram, “linailihi”, meski halal zatnya serupa makan tempe ketahui halal namun karna trik mencarinya dengan berdusta, menipu, sumpah palsu, terima sogokan, korupsi dan juga sebagainya, hingga senantiasa haram, seolah dia makan tempe ketahui namun sesungguhnya dia makan anjing dan juga babi, seperti itu yang diucap “rijsun min amalisy syaithon”. najis karna amalnya ataupun “roddudzdzakaat” karna menolak zakat, hingga hartanya bercampur dengan hak faqir miskin, kotorlah hartanya. seluruhnya jadi jilbab hati dan juga jilbab ikatan kepada allah, walhasil shalatnyapun tidak diterima, allah “subbuuhun” maha suci cuma menerima yang suci. ingat pendapat rasul pada orang yang menangis tatkala berdoa, “hampir aja saya mengira doanya diijabah allah, tetapi jibril memberitahuku kalau orang itu suka menipu, lalu gimana allah menanggapi sang penipu, baju dan juga makanannya dari hasil menzalimi teman ? ” sadarilah dikala shalat kita berhadapan zat yang maha suci!.

yang ketujuh, karna shalatnya masih diiringi “al fahsyau” berbuat maksiat serupa berdusta, mabuk, buka rambut/aurat, berjudi, berzina, dari zina mata memandang yang porno, tangan meraba, benak berkhayal hingga zina kemaluan, “adzdzunuubu kaafilatul quluubi” dosa - dosa maksiat itu jadi “cover” penutup hati.

alwaqi, guru imam syafii’ mengatakan, “nurullahi la yuhda lil a’shi”, begitu sinar nur anugerah allah tidak hendak masuk pada hati yang tertutup hitam karna maksiat. inilah mayoritas yang terjalin pada “tukang shalat” bukan “penegak shalat”, stmj sholat giat maksiat tekun, ritual rutinitas tanpa diiringi amal yang bermutu, hasilnya lagi lagi kosong, tidak terdapat “atsar” pengaruh, ini sekalian jadi jawaban kenapa terdapat orang shalat namun susah khusyu’. ya gimana khusyu’ maksiat terus sich!. imam ghazali mengatakan, “sungguh, sekali dusta sudah cukup membikin sholatnya terhijab kepada rabbnya”.

yang kedelapan, karna shalatnya diiringi “al munkar”, berbuat zalim, menganiaya, menipu, menggunjing, memfitnah, merendahkan teman secara terang - terangan ataupun secara diam diam, dalam hatinya merendahkan teman , menghina, memukul terlebih hingga menewaskan teman . ini juga jadi jilbab besar, karna allah cuma menerima ibadah yang membikin hamba itu menghinakan diri dihadapannya dan juga yang membikin pribadinya rendah hati kepada mahluknya.

cukup shalat itu hendak dikira dusta bahwa tidak mencermati yatim piatu dan juga fakir miskin (qs (AL) maun 1 - 3). “cuek, masa bodoh, pelit, emangnya gue pikiran” dan juga sebagainya sudah cukup dikira pendusta shalat, pendusta agama terlebih hingga berbuat aniaya. dan juga ini seluruh bukan akhlak hamba allah yang sholat, orang shalat itu belas kasih, santun, pemaaf, murah senyum, dermawan dan juga rendah hati, sahabatku.

rasulullah bersabda, “sesungguhnya allah menerima sholat hamba hambanya yang rendah hati”. sekali lagi sahabatku, hambanya yang kenali allah hendak menghinakan diri dihadapan allah dan juga buahnya rendah hati dihadapan mahluknya.

subhanallah, maafkan bahwa saya sampaikan membikin kamu tidak aman, mudah - mudahan allah terus membimbing kita dengan hidayahnya sampai - sampai terus menjadi dekat dengan kematiaan terus menjadi baik ibadah shalat kita… aamiin




(sumber: suara - islam. com, muslimsatu. com)





Related Posts

0 comments:

Post a Comment